Sabtu, 11 Mei 2013
Curhat PKS kusayang #2
namun jangan kau tunjukan kelemahanmu pada mereka yang tidak bisa memahami konspirasi para penguasa... jangan kau tunjukan kesedihanmu pada masyarakat yang terlalu "cukup dengan media"... jangan kau tunjukan pada mereka yang hanya bisa melihat kelemahan dan kekuranganmu... karena sesungguhnya kalian bukan malaikat, yang tidak memiliki kekurang...
ikhwah... saatnya mengatakan pada mereka, bahwa KAMI KADER PKS, tidak akan mundur walau selangkah... harga mati sebuah perjuangan demi sebuah KEADILAN dan KESEJAHTERAAN.
Curhat PKS kusayang #1
ikhwah... kalo kita jelaskan ke masyarakat dan mereka ngotot, berarti bukan kebenaran lagi yang mereka cari, tapi merekalah masyarakat-masyarakat yang mau penindasan oleh yang punya duit terus berlanjut... sebesar apapun kita berkoar, mereka tidak akan peduli...
saatnya sekerang bekerja, bekerja, bekerja... kita hanya akan menerima masyarakat yang cerdas melihat kondisi... banyak kok yang bisa jadi tolak ukur...
kasus-kasus big bos demokrat, seperti century, hambalang dll , yang merugikan negara miliyaran di biarkan begitu saja. sedangkan kasus LHI yang *diduga* akan disuap tidak merugikan negara tetapi dihukumi media seperti orang yang sangat bersalah dan tidak punya kebaikan sama sekali.. sampai-sampai semua dihubungkan... dari fathanah dengan wanita-wanita, LHI dipaksakan berhubungan dengan Fathanah, dan Fathanah di paksakan jadi kader PKS yang istrinya sendiri mengatakan bahwa Fathanah itu bukan kader PKS...
ikhwah... saatnya bekerja, bukan untuk menjelaskan kepada mereka yang menikmati penindasan MEDIA dan KPK....
ikhwah... wallahu khairul makiri
#geramdenganpenindasanolehmedi
Rabu, 08 Mei 2013
Nyanyian Pagi Ustad NHW terkait #PKSMelawan
2. Bbrp hari ini, media menaruh perhatian besar kpd PKS krn isu
3. Kesan bhw
4. Sejak dlm rancangan pembuatan UU ttg KPK, Fraksi PKS sangat jelas dukung keberadaan KPK dg kewenangan yg kuat.
5. Thn lalu ada hingar bingar usulan revisi UU KPK di DPR, FPKS pun berada di garda terdepan tolak revisi UU itu krn akan membonsai KPK.
6. Sikap kami jelas. Ketika Ust LHI didatangi KPK dan mrk sampaikan surat utk penahanan, apakah
7. Utk Ust LHI yg kami cintai karena Allah saja, PKS tdk lakukan perlawanan, apalagi hanya utk bbrp unit mobil.
8. Kata tim hukum Ust LHI, Pak Zainuddin Paru, wkt itu sekuriti DPP sdh persilakan, tapi minta KPK prlihatkan dulu surat tgas utk penyitaan.
9. Nyatanya, pihak KPK tak bisa tunjukkan surat penugasan, maka sekuriti persilakan datang Selasa (7/5) pagi dg bawa surat tugas.
10. Selasa (7/5) sore tim KPK datang lg, tapi surat tugas tak dibawa, justru bawa surat undangan kpd Ketua Majlis Syuro & Presiden PKS.
11. Ketika kawan2 sekuriti lihat tak ada surat tugas, wajar mereka merasa brtgjwb utk amankan barang2 di lingk DPP. Itu tugas mrk.
12. Prinsipnya, tak akan
13. Tapi, supaya tak jadi heboh, apa sih susahnya KPK bawa surat dan secara definitif sebutkan mobil mana yg mau diambil & atas dasar apa?.
14. Saya yakin kalau itu dilakukan, aplg dg kordinasi dg pimp partai spt dulu dilakukan trhadap Ust LHI, tak akan ada masalah.
15. Kata kuncinya, tak benar
16. Jalankan aturan2nya, maka PKS akan dukung KPK. Tak akan
Sabtu, 04 Juni 2011
Bunda

Berawal dari menuls sebuah status di Facebook (FB), akhirnya terinspirasi untuk menjadikan sebuah catatan yang lebih besar daya tampung karakternya dibanding status *ma'lum, pengen curhat...
Tepatnya... Sabtu malam (4 Juni 2011), sedang asyik-asyiknya ngenet-an, tiba-tiba pengen dengar suara Bunda, Kangen ceritana... singkat cerita, hape ku ambil, pulsa ku cek, nama bunda ku cari di daftar, ku pencet tombol memanggil, terdengar suara Tuuuut...tuuuut.... lumayan lama sih, ku sangkanya bunda sudah tidur *jam 11 malam cing.. sampai terdengar suara operator cewek ngomong kalo nomor bunda lagi sibuk, jangan di ganggu.. *haaaa.. ngarang... trus ku coba lagi yang ke sekian kalinya *hehehe.. baru juga dua kali... terdengar suara "tuuuut...tuuut...tutt... Assalamu alaikum..." haa... akhirnya, pikirku, ternyata bunda belum tidur. "wa alaikum salam Ma (aku manggil mama ke bunda).. belum tidur ki..? kataku ke bunda, "belum pi na'.. nonton(g)2 ji sama bapa'mu ini.. kenapa ko..?" suara bunda terdengar jelas di telingaku, ku hayati, kurenungi, kusadari bahwa ternyata bunda sudah berumur, sudah seperti nenekku dulu waktu akau masih kecil-kecil.. "Wan... kenapako na'... " panggilannya menyadarkan aku kalo ako sedang berbincang dengannya via HP, " iye' ma... nda' ji... bemana mi (bagaimana.red.. hallah ^_^) kabarta?"... " Alhamdulillah na'.. Kau iyya..?" tanyanya balik, ku jawab sebagaimana jawaban umumnya, "bae-bae' ji ma'..."
begitulah perbincangan antara kami berlanjut, semua berjalan sekenanya, ku jawab semua pertanyaan darinya, begitu juga dia menjawab semua pertanyaan dari ku. mulai dari masalah kondisi rumah, saudara sepupuku yang tinggal bersamaku, omku yang juga tinggal serumah denganku, adikku yang baru saja pulang dari KKN, dan semua yang berhubungan antara aku, sepupuku, omku, dan adikku... semua berjalan dengan santai.. nyaman.. lantunan suara tuanya seperti sengatan kistrik gelombang tinggi yang menggetarkan setiap perasaan dalam diriku *lebay coy... semua berjalan begitu saja, sampai ketika ia mulai mengangkat kerinduannya pada semua anak-anaknya, harapan yang besar baginya dari setiap anak-anaknya, aku tau... aku tau kalau sebenarnya ia sementara meneteskan air mata pada saat itu anmun sekuat hati ia tampakkan ketegaran dalam dadannya hanya untuk enjaga jangan sampai aku jatuh dan lemah dengan air matanya, aku tahu bahwa pengharapan yang pernah ada sewaktu kami (anak-anaknya) masih kecil-kecil sebagian besar hilang... semua kondisi yang mereka (bunda dan ayahanda) temui sekarang ini mungkin sangat jauh dari yang mereka harapkan... namun semua itu mereka tepis, mereka sangat demokrat, mereka melebur semua egoisme keinginan mereka hanya untuk senyum di wajah kami terhadap pencapaia-pencapaian kami...
semua itu muncul dalam benakku, seiringin dengan kata-katanya yang terus mengalir di seberang sana... nasehat demi nasehat meluncur halus keluar dari speaker Hp-ku, ingin rasanya pada saat itu ku katakan padanya.. "maafkan anakmu bunda, masih belum mampu menunjukan padamu apa yang Allah dan Rasulnya kehendaki, dan yang bunda dan ayahanda harapkan dari anakmu ini.." ingin rasanya ku buka tabr jarak antara aku dan bunda dan kutunjukan pada bunda betapa lemahnya diriku tanpa kasih sayangnya, motivasinya, doronganya, bimbingannya... ingin juga ku peluk bunda dan berkata padanya bahwa "Aku rindu Bunda..."...
"Wan... Wan..." suaranya kembali menyadarkan ku, "iye' ma..." jadi kapan selesai kuliah mu.. nah, inilah babak yang kunanti, pertanyaan yang sangat sulit untuk kujelaskan bunda, pertanyaan itu berusaha ku alihkan ke pembahasan lain yang kira-kira mendekati, dan akhir nya pertanyaan itu seperti pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, bagiku kukira seperti itu, namun ku tau bundaku selalu faham dengan kondisiku... ia faham bahwa aku belum punya jawaban untuk pertanyaannya itu, makanya ia tidak sampai mengulang dua kali pertanyaan tersebut, itulah Okenya Bundaku, selalu mengerti kondisi anaknya...
the next... terdengar suara Teeeeeeet.. di hp-ku, aku baru ingat kalo pulsaku memang sedikit, so... dengan sigap kukatakan pada bunda " Ma'... habis mi pulsaku, beso' (K)2 pi sa telpon(g) kilagi nah.. salam sama papa' (panggilan ku ke yanda).." " iye' na'... bae-bae ko nah... fokus kuliah mu dulu, baru urus yang lain.. Assalamu alaikum.." "waalaikum salam iye' ma.." kututup HP-ku, kuraba pipiku, hehehe... kecengenganku datang... ternyata, aku kangen Bunda...
Untuk Ssebuah Do'a
اللهم اغفرلي زولوالدي ورحمهما كما ربياني صغيرا
Rabu, 15 Desember 2010
Review Buku: Saya Nujood, Usia 10 dan Janda

Sejak buku ini dipromosikan di Gramedia, aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Kebetulan aku suka sekali dengan buku-buku tentang perempuan yang tinggal di negara-negara Arab, Persi dan Arab Maghribi. Sampai-sampai aku punya quote tentang mereka yang dikatakan oleh seoarang mantan model Iran “Memang salah satu kebebasan kami diambil atau kami punya aturan tetapi pada saat yang sama kami menjadi kreatif dalam menghadapi situasi”.
Seperti yang sudah semu ketahui bahwa beberapa negara Arab dan yang juga menjadikan azas Islam sebagai azas negara amat menekan tentang pemisahan laki-laki dan perempuan. Selain itu juga pada Arab tradisional, seorang Ayah dan saudara laki-laki atau kerabat laki-laki yang dituakan adalah “tuhan” di bumi bagi kaum perempuan. Disinilah cerita tentang Nujood, seorang gadis dari Yaman nasib pernikahan ditentukan ketika umurnya baru 9 tahun.
Semua orang menganggap ini adalah hal yang terbaik bagi Nujood karena jika mengutip hikayat Nabi Muhammad SAW, Beliau sendiri menikahi Aisyah ketika Aisyah sendiri berumur 9 tahun. Selain itu menurut undang-undang Yaman, tidak ada batasan umur untuk menikah namun hubungan suami istri hanya bisa dilakukan jika istri sudah memasuki masa pubertas atau haid pertama.
Alasan yang sebenarnya adalah Ayah Nujood ingin mengurangi jumlah mulut yang harus diberi makan. Sebagai tukang sapu pinggir jalan, beristri dua dan mempunyai 16 anak, termasuk beberapa cucu maka memberi makan kepada mereka bukan pekerjaan ringan. Harapan Ayah Nujood, dengan menikah tanggung jawabnya sebagai Ayah sudah selesai. Selain itu mahar pernikahan Nujood dapat digunakan untuk membiayai rumah tangganya.
Yang terjadi adalah suami Nujood dan keluarganya tidak memenuhi janjinya untuk merawat Nujood, apalagi menyekolahkan dan menunggu sampai Nujood cukup siap untuk berhubungan seksual layaknya suami istri. Nujood hanya dijadikan sebagai komoditas, harta baru bagi keluarga tersebut. Pada malam pertama Nujood langsung diperkosa oleh suaminya dan ini tidak tejadi sekali namun berkali-kali. Lalu oleh Ibu mertua dan ipar-ipar perempuannya dia diperlakukan sebagai pembantu dan dipukul jika salah melakukan pekerjaan.
Pada suatu hari suaminya memberikan waktu kepada Nujood untuk pulang ke rumah orang tuanya. Pada saat di rumah orang tuanya itulah, Nujood mencari tahu bagaimana caranya bercerai karena selama ini tidak ada perempuan yang berani bercerai walaupun hidup dalam pernikahan tidak sehat.
Istri kedua Ayah lah yang akhirnya mengusulkan agar dia pergi menemui hakim di pengadilan agar bisa diceraikan. Tidak hanya itu dia juga memberikan uangnya yang tak seberapa kepada Nujood untuk membayar ongkos bis ke Pengadilan. Dengan keberaniannya akhirnya Nujood berhasil ke pengadilan, memohon cerai dan akhirnya dikabulkan walaupun itu berarti kontroversi memenuhi Yaman dan juga dunia internasional. Padahal yang dinginkan gadis kecil ini amat sederhana bagi anak-anak perempuan di belahan dunia lain, bisa sekolah dan menjadi pengacara.
Kisah Nujood ini mengingat aku pada kutipan sebuah buku yang ditulis (kalau tidak salah) Nawal El Sadawy seorang aktivis perempuan Mesir “Bahkan untuk berpakaian pun perempuan harus ditentukan oleh laki-laki.” Ini membuat miris hatiku karena aku juga beragama Islam (walaupun bukan yang taat) jika sebuah adat istiadat atau kehendak kaum pria “dibenarkan” dengan paksa oleh oknum-oknum tertentu dengan mengutip ayat-ayat Al Qur’an.
Yaman memang negara Islam namun adat istiadat dan budaya patriakal yang kuat membuat perempuan akhirnya menjadi “harta” laki-laki. Jika bisa aku bandingkan dengan Iran yang aku baca dari buku Pelangi di Persia oleh Dina Y. Suleman. Di negeri Ahmadinejad ini kaum perempuan mempunyai kesempatan belajar yang luas dan juga bekerja. Belum lagi karena undang-undang pernikahan ketat dan permintaan mahar yang berupa keping emas yang sama sekali tidak murah maka pria di Iran amat menghormati istri dan pernikahannya.
Buku ini wajib dibaca bagi anda-anda yang mendukung negara Islam sehingga nanti anda tahu masalah apa yang akan anda hadapi. Dan untuk semua perempuan terlepas agama apapun yang anda anut, pernikahan anak-anak bukan hanya masalah dunia Islam, namun juga masalah bersama, sesama para perempuan, karena dalam agama apapun banyak juga yang “melegalkan” pernikahan anak-anak seperti ini mau Kristen, Budha ataupun Hindu”.
Sumber gambar dari MarcGopin.com
Copy By:COMPASIANA
Minggu, 12 Desember 2010
Ponakan Azhariyuun...

Entah berkah apa yang datang padaku hari ini... iseng-iseng, kuhubungi dua nomor teman lama, keduanya mengabarkan berita gembira. Kebahagiaan dengan kelahiran dua insan baru dari saudari al azhariyyun. Sebenarnya, mereka sudah aga’ lama melahirkan, tapi aku sendiri baru pagi ini tahu. Mereka bilang pengen ngasi kabar, tapi nomorku nggak bisa di hubungi... never mind, but, ini semua membuatku bahagia di pagi ahad...
Uniknya lagi, ponakan baru itu sepasang, satu Ikhwan, satunya lagi Akhwat. Aku sangat berharap kelahiran mereka menjadi sebuah kebaggan dan keberkahan bagi keuda orang tua mereka khususnya, dan kepada agama ini.
Mujahid dan mujahidah baru kami... tulisan ini khusus ku buat untuk kalian... meski singkat, namun berisi kebanggan dan pengharapan pada kalian. Aku yakin, orang tua kalian mempunyai kebanggan yang lebih dari pada kebangganku pada kalian... meski nama kalian begitu sulit untuk ku hafalkan, namun kalian berdua ada dalam hatiku...
Puisi untuk kalian...
Buah dari keindahan cinta
Bersemi menebar harum dalam kehidupan
Sebagai dambaan penantian yang lama
Dari keinginan dan kerinduan tiap insan
Awal dari kehidupan telah kau jalani
Bukan singkat pejalanan kan menyambut di depan nanti
Bukan ringan tantangan mendera kemudian hari
Sandarkan hatimu pada kehendak ilahi
Buah hati para pencari keridhahan
Pelipur nestapa dalam bahtera kehidupan
Kau indah bagi sebuah keindahan
Kau tumpuan ribuan harapan
Hanya ini yang bisa ku berikan... ku rindu melihat kalian....
Lakuma Ukhtaani Fillah
Isnaeni wa Mardiyah
Jumat, 10 Desember 2010
Bagai Katak Dalam Tempurung
Namun tahukah Anda, bahwa orang gaul pun bisa memiliki sifat yang sama dengan apa yang dikatakan pepatah ini? Yup, orang yang merasa gaul dan suka membaca tidak terbebas dari kemungkinan menjadi orang seperti dalam pepatah ini. Bisa jadi, Anda pun termasuk di dalamnya.
Silahkan lanjutkan membaca untuk mengetahui apakah Anda termasuk dan solusinya untuk mencegah dan keluar dari sikap seperti ini.
Apa itu tempurung? Bagai katak dalam tempurung, artinya si katak tidak bisa melihat dunia luar karena dibatasi oleh tempurung. Jadi makna yang lebih mendalam dari pepatah ini ialah hidup yang dibatasi. Yang dimaksud batas ini bukan hanya membatasi mata lahir saja. Namun, yang lebih bahaya ialah saat mata hati dan pikiran kita yang dibatasi.
Tertutup Mata Hati
Mata hati yang dibatasi tidak bisa melihat kebenaran. Apa yang membatasi hati? Yang membatasi hati itu adalah hawa nafsu. Orang yang hatinya sudah tertutup oleh hawa nafsu tidak akan mampu melihat kebenaran. Satu-satunya cara agar bisa melihat kebenaran ialah dengan menyingkap tabir tersebut, bukan meniadakannya sebab hawa nafsu sudah bagian dari manusia. Ciri-cri orang yang mata hatinya tertutup ialah tidak bisa melihat cahaya, bahkan saat dia sedang membaca sumber cahaya tersebut, yaitu Al Quran. Atau orang yang selalu/sering menolak nasihat atau selalu melakukan pembenaran saat menerima nasihat.
Pikiran yang Dibatasi
Model kedua dari makna bagai kata dalam tempurung ialah saat pikiran kita yang dibatasi. Orang yang rendah diri adalah orang yang pikiran dibatasi oleh anggapan akan kemampuan diri yang rendah. Orang yang putus asa adalah orang yang pikirannya dibatasi oleh sempitnya ide-ide yang bisa menjadi solusi. Dia pikir tidak ada yang bisa dilakukannya lagi, dia pikir semua sudah dilakukan. Padahal belum semua cara dan ikhtiar yang dilakukan, dia hanya menganggap semuanya sudah dilakukan karena pikirannya sebatas itu.
Dan, masih banyak lagi akibat negatif dari berpikiran sempit.
Buka Hati Buka Pikiran
Bagai katak dalam tempurung, si katak merasa bahwa dunianya memang seperti itu. Gelap dan sempit. Dia merasa bahwa itulah realitas hidup. Dia tidak sadar kalau dirinya sebenarnya terkungkung oleh sempitnya tempurung. Banyak juga manusia yang merasa hidupnya sudah baik-baik saja. Dia merasa seperti itulah hidup yang sebenarnya. Mereka tidak menyadari bahwa hidup bisa lebih luar dari itu.
Terlepas, apakah Anda merasa Bagai Katak Dalam Tempurung atau tidak, maka Anda tetap harus membuka hati dan pikiran Anda. Seperti yang saya jelaskan di modul Berpikir Diluar Kotak Revolusi Waktu, bahwa sebenarnya kita ada dalam kotak tertentu. Sejauh mana apa yang Anda capai dan miliki saat ini, itu adalah ukuran dari kotak atau batasan yang ada pada diri Anda. Artinya jika Anda ingin memiliki pencapaian yang lebih besar, maka bukalah pikiran Anda.
Bukalah hati. Membuka hati bisa dimulai dengan membersihkan kotoran-kotoran yang ada dalam hati. Mulailah dengan memohon ampun kepada Allah dan memperbanyak ibadah agar hati kita menjadi bening. Terimalah nasihat, apalagi yang datang dari Al Quran dan hadits shahih, meski pun nasihat itu menonjok hati Anda. Jika Anda tidak suka dengan nasihat baik, artinya ada sesuatu dalam hati Anda. Maka mulailah untuk menerima nasihat meski terasa pahit, bukan menolaknya atau mencari pembenaran.
Mudah-mudahan, kita semua terhindar dari orang yang tertutup baik mata hatinya maupun pikirannya. Mudah-mudahan hidup kita tidak Bagai Katak Dalam Tempurung.
Copy by: Motivasi Islami
